Jangan membuat cacat hidup anak kita dengan selalu memberikan kemudahan kepada mereka # Robert A. Heinlein
Read More…..
|
|||||
|
|
Jangan membuat cacat hidup anak kita dengan selalu memberikan kemudahan kepada mereka # Robert A. Heinlein
Anakmu bukan milikmu. Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri, Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau, Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu. Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kau berikan rumah untuk raganya, Tapi tidak untuk jiwanya, Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi. Kau boleh berusaha menyerupai mereka, Namun jangan membuat mereka menyerupaimu Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, Pun tidak tenggelam di masa lampau. Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya, Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap. – Khalil Gibran Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak Anda lontarkan untuk buah hati tercinta. Apa itu? Berbagai mitos tentang cinta telah beredar selama berabad-abad. Namun tak semua mitos tersebut benar. Berikut beberapa mitos yang ada serta faktanya. Mitos : Cinta saja sudah cukup sebagai dasar berhubungan Selalu ada sisi positif dan negatif dari semua hal, termasuk teknologi. Jika tidak hati-hati, perkembangan teknologi yang harusnya memudahkan, justru bisa menganggu kisah cinta Anda. Ada orang yang mendapatkan kekasih lewat Internet, tetapi ada juga yang dicampakkan pujaan hati lewat SMS. Kehadiran teknologi dalam dunia percintaan memang kini semakin maju. Bukan hanya sekadar alat penghubung tapi juga bisa berfungsi sebagai detektif sampai “satpam”. Nah, jika tidak hati-hati, kecanggihan teknologi yang baik malah bisa berbalik merugikan kehidupan cinta Anda. Waspadalah!
“Bagaimana tidak keterlaluan anak saya ini pak ?! Saya sudah menyekolahkan dia ke Singapura dan semua fasilitas sudah saya sediakan, tapi…apa nyatanya ? Saya tidak minta ke dia yang muluk-muluk, harapan saya supaya ia bisa sukses, berhasil menjadi orang yang terpandang. Namun semua harapan itu lenyap kalo melihat dia seperti sekarang ini. Sia-sia saya mengirim dia ke Singapura sejak kecil.” Seringkali banyak orangtua menaruh harapan yang tinggi pada anak mereka tanpa melibatkan anak itu sendiri. Dengan bungkusan alasan “Kan’ semua demi masa depan anak, demi kesuksesan anak.” Apakah benar demi anak ? Apa bukan memenuhi ego kita ? “Aduh duhh….”. Keluh seorang ibu sambil mengelus dada. “Napa, jeng ?”. Tanya tetangga sebelah rumah dengan nada perlahan. “Jantungnya bermasalah ?”. “E… Bapak Santoso. Nggak pak…”. Jawab ibu tersebut sambil tersenyum malu. “Saya cuman sedang sedih, jengkel dan marah. Campur aduk dah pak. Saya ini kok bisa melahirkan anak yang nakal ? Anak saya ini loh, pak. Bikin saya gemes melihat dan mendengar perilaku anak saya setiap hari. Mulai dari gak mau disuruh belajar, suka bohong, tidak punya semangat kalau ngadepin kesulitan, tidak disiplin ngikutin aturan. Hampir tiap hari saya mendapatkan laporan dari gurunya dan hampir setiap hari saya harus teriak-teriak di dalam rumah untuk mendisiplinkan anak saya. Saya jadi gak tahan ada di rumah, penginnya kerja melulu. Daripada pulang, kemudian ketemu anak saya… terus harus ngadepin kenakalan anak saya.” Cerocos ibu itu tanpa bisa di rem. Benarkah anak nakal dilahirkan ? Tak banyak orang yang menyadari bahwa beberapa kebiasaannya membuat hubungan dengan orang yang ia cintai menjadi berantakan. Ingin tahu kebiasaan apa saja? Ada pepatah berkata “jika kau ingin merasakan Surga maka menikahlah, sama halnya jika kau ingin merasakan Neraka maka menikahlahâ€. Kata-kata yang masuk akal di era kehidupan sekarang ini dimana krisis keluarga banyak terjadi dinegara kita sekarang ini. Diawal tahun 2011 ada penelitian yang mengatakan bahwa 80% anak Indonesia berpikiran negative, berpikiran negative sangat luas dan tidak saya jelaskan disini. Saya hanya ingin menunjukan bahwa sebenarnya anak adalah produk dari orang tuanya, jika anak bermasalah maka orang tuanya pasti bermasalah. Produk tidak baik berarti Pabriknya/perusahaannya tidak “beresâ€. Go to the topic, selingkuh berarti selingan indah keluarga utuh, setuju? Nggak!!! Ya, maaf saya bercanda. Artikel ini saya tulis karena saya banyak sekali menangani salah satu permasalahan keluarga dan ini adalah masalah serius. Banyak juga rekan yang menghubungi saya melalui email dan tidak dapat saya jangkau (bertemu langsung), saya berharap tulisan ini dapat member manfaat dan mudah-mudahan menjadi solusi dalam urusan yang sarat dengan kata-kata “ceraiâ€.
Ratna menyerah. Setelah sekian tahun tidak ada satu hal pun yang bisa menyenangkan hati ibu mertuanya. Senantiasa dipersalahkan, mulai dari hal yang paling kecil sampai yang paling tidak masuk akal. Dipikirnya belasan bahkan puluhan kali kata yang akan ia ucapkan. Hati-hati dirangkainya kata agar tidak menyinggung perasaan. Tetapi tetap saja mertuanya tidak berkenan. “, kata Ratna pada Robi suaminya setalah ribut yang kesekian kalinya dengan ibu mertuanya. Robi cuma bisa tersenyum getir. Bukan dia tidak tahu, ibunya memang sulit dipuaskan. Jalan pikirannya kadang sulit dimengerti, suasana hatinya pun sering sulit ditebak. “Aku tak tahu lagi harus bagaimana. |
||||
|
Copyright © 2012 andrew tang's blog - All Rights Reserved |
|||||