|
By michaeltang, on February 8th, 2011
Banyak diantara kita yang berpikir untuk menekuni Fine Art Photography dalam hidup berfotografinya. Hal tersebut adalah sah-sah saja karena setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing. Kebanyakan beralasan bahwa membuat ‘sesuatu yang fine art’ tidak perlu belajar teknik susah payah, buat saja ‘suka-suka’ lalu memproklamirkan diri sebagai seniman!
Sebenarnya apakah yang dinamakan Fine Art Photography yang membedakannya dengan genre fotografi yang lain? Read More…..
By michaeltang, on February 8th, 2011
“Kebenaran tidak selalu sama dengan keputusan mayoritas dan minoritas bisa saja benarâ€. (Paus Johanes Paulus II)
Kita semua mengetahui dan menyadari terutama dinegara kita ini, bahwa kalau menyangkut (pelanggaran) hukum, tidak ada yang dapat mengalahkan ‘masa’. Mulai dari masa pada pertandingan sepak bola dengan boneknya yang menjarah dan melukai orang lain, masa pengendara sepeda motor yang melawan arah dan membahayakan pengendara lain, masa pedagang yang memasang dagangannya dibadan jalan dan mengambil hak orang lain, masa dengan mengenakan pakaian tertentu yang merusak bangunan dan harta milik orang lain dan sebagainya dan seterusnya. Semua tata krama, undang-undang dan hukum yang sudah dibuat dengan susah payah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang baik yang notabene menghabiskan banyak waktu dan biaya tidak berdaya bila sudah menghadapi perlawanan masa. Tindakan semau gue dengan mengandalkan masa yang kita kenal dengan istilah anarki. Read More…..
By michaeltang, on February 8th, 2011
Ikutilah acara ‘hunting foto bareng’ yang sering diadakan perkumpulan maupun anggota milis fotografi yang banyak tumbuh disekitar kita.
Maka akan terlihat para peserta yang berlomba-lomba mempertunjukkan kamera beserta lensa unggulannya masing-masing. Tas kamerapun sepertinya tidak pernah cukup besar untuk membawa seluruh peralatan ‘hunting’ fotonya.
Tidak cukup sampai disitu saja, merekapun berlomba-lomba saling mengunggulkan merk dan jenis kamera yang dipakai sambil memandang rendah ‘kamera lawan’ yang notabene keluaran enam bulan yang lalu (kuno!).
Bahkan ada istilah ‘agama’ (bukan istilah saya) dimana dinegara kita Canon dan Nikon adalah dua ‘agama’ yang paling banyak ‘penganut’nya yang kadang-kadang membuat penganut agama lain menjadi ‘minder’ (ah, saya ‘hanya’ menggunakan Olympus atau Pentax dll). Disini SARA dipersilakan! Silakan cela ‘agama’ lawan! (‘Agama’ mu payah, mirrornya sering lepasâ€). Yang dicela akan dengan cepat membela diri dan kembali melakukan ‘serangan’ yang tidak kalah pedasnya (‘agama’mu soft warenya payah)! Saling serang dengan jurus andalannya masing-masing bagaikan dalam film cerita silat! Read More…..
By michaeltang, on February 8th, 2011
“A photographer’s main instrument is his eye” (Manuel Alvarez Bravo, fotografer Mexico)
Sebagai penggemar fotografi, kita bereuforia dengan istilah megapixel, noise, grain, ‘oldig’, ‘di-ai’, histogram, Canon vs Nikon dan lain sebagainya.
Memang semua itu penting sebagai alat bantu untuk mecapai tujuan kita, yaitu ‘imej’ (image), tapi yang paling penting adalah apa yang hendak kita capai atau ciptakan dengan semua pengetahuan (plus peralatan) kita.
Apakah kita ingin mencari kepuasan diri sendiri dan terjangkit sindrom “Punyaku lebih besar dari punyamu”? Read More…..
By michaeltang, on February 8th, 2011
Ini adalah pertanyaan yang sering saya dengar dari kawan-kawan yang baru hendak berkarir dalam dunia fotografi. Dengan adanya pertanyaan ini tersirat bahwa penanya serius ingin menekuni fotografi sebagai pekerjaan atau profesi.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan mengajak anda untuk kembali sejenak untuk memikirkan bagaimana sampai seorang dapat mengutarakan pertanyaan tersebut. Dengan menentukan fotografi sebagai profesinya, tentu dia telah melakukan segala persiapan yang diperlukan Read More…..
By michaeltang, on February 8th, 2011
Kemarin pada saat sedang mengikuti dan mengawasi pemotretan distudio saya, pengarah seni (art director) berkata kepada saya: “Saya ingin belajar foto nih”. Saya melihat bahwa dia membawa DSLR dengan sekian puluh Mp (Megapixel). Art director tersebut sangat ahli dalam olah digital (sekarang banyak art director muda yang sangat mengerti olah digital tetapi sayangnya kurang mengerti fotografi.) bertanya pada saya: “Pada pemotretan orang diluar, bagaimana mendapatkan hasil yang baik, karena jika saya meng-exposed untuk wajah, bajunya akan “terlalu putih” dan kalau saya ukur untuk bajunya, maka mukanya akan jadi “terlalu gelap”. Read More…..
By michaeltang, on February 8th, 2011
Saya lagi asyik muter-muter di Facebook ketika chat window saya loncat muncul. Seorang penggemar foto dari Semarang bertanya, “Kenapa sih kita selalu dinilai dari kamera kita?†Saya bilang, “Oya? Masak sih? Salah bergaul kali.†Iya, mungkin aja hobinya teman satu ini nongkrong di toko kamera, so pastilah orang-orang lebih suka nanyain soal kameranya. Atau, mungkin juga kalo hunting foto tas kameranya gede banget, jadilah suka ditanya-tanyain. Atau, jangan-jangan kameranya invisible, jadilah ditanyain juga, kameranya apa, wong temen-temennya pada bawa kamera dia bawanya Blackberry. Read More…..
By michaeltang, on February 8th, 2011
Dalam fotografi analog (menggunakan film), ISO (yang sering disebut ASA pada waktu itu) adalah indikasi seberapa sensitif film tersebut terhadap cahaya. Ukuran dari ISO ( ASA) biasa ditulis dengan angka (kita dapat melihat dengan angka 100, 200, 400, 800, dst). Semakin rendah angkanya, semakin rendah sensitifitas film tersebut terhadap cahaya, dan semakin rendah juga noise dari gambar yang kita ambil.
Dalam era digital ini, ISO mengukur sensitifitas sensor kamera terhadap cahaya. Pada prinsipnya sama dengan yang diterapkan di film kamera analog. Semakin rendah angkanya, semakin berkurang sensitifitasnya terhadap cahaya dan semakin rendah juga noise pada gambar yang di hasilkannya. Setting ISO yang tinggi biasa di gunakan untuk situasi yang lebih gelap untuk mendapatkan Shutter Speed yang lebih tinggi (sebagai contoh adalah apabila kita ingin mengambil gambar di dalam ruangan yang cahayanya kurang terang), tetapi tentu saja noise nya akan lebih tinggi. Read More…..
By michaeltang, on February 8th, 2011
Pada tulisan saya sebelumnya, saya telah membahas apa itu Exposure Triangle yang memiliki 3 elemen yang sangat penting untuk kita dapat menggunakan kamera dengan mode manual. Juga saya telah menulis hal-hal mendasar tentang apa itu Shutter Speed. Pada saat ini kita akan membahas tentang apa itu Aperture. Sebelum kita memulai penjelasan ini, saya ingin menjelaskan bahwa apabila kita dapat benar-benar memahami Aperture dan dapat dengan kreatif memainkan aperture ini, anda akan dapat memahami perbedaan antara gambar satu dimensi dan gambar yang memiliki banyak dimensi. Dengan Aperture ini, akan banyak “keajaiban†terjadi dalam foto-foto anda. Read More…..
By michaeltang, on February 8th, 2011
Seperti yang telah saya bahas sebelumnya, definisi dasar dari Shutter Speed atau kecepatan rana adalah ukuran waktu pada saat shutter kamera terbuka. Pada fotografi analog (fotografi dengan menggunakan kamera analog / film), Shutter Speed adalah lama jangka waktu film ter-exposed oleh lingkungan yang akan anda foto. Pada kamera digital, definisi tersebut tidaklah jauh berbeda. Hanya saja fungsi film pada kamera analog telah tergantikan oleh sensor penerima gambar. Mari kita membicarakan apa dan bagaimana shutter speed itu dengan lebih spesifik lagi. Read More…..
|
|