|
By Nikita, on January 17th, 2012
Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak Anda lontarkan untuk buah hati tercinta. Apa itu? Read More…..
By Nikita, on January 3rd, 2012
“Bagaimana tidak keterlaluan anak saya ini pak ?! Saya sudah menyekolahkan dia ke Singapura dan semua fasilitas sudah saya sediakan, tapi…apa nyatanya ? Saya tidak minta ke dia yang muluk-muluk, harapan saya supaya ia bisa sukses, berhasil menjadi orang yang terpandang. Namun semua harapan itu lenyap kalo melihat dia seperti sekarang ini. Sia-sia saya mengirim dia ke Singapura sejak kecil.”
Seringkali banyak orangtua menaruh harapan yang tinggi pada anak mereka tanpa melibatkan anak itu sendiri. Dengan bungkusan alasan “Kan’ semua demi masa depan anak, demi kesuksesan anak.”
Apakah benar demi anak ?
Apa bukan memenuhi ego kita ? Read More…..
By Nikita, on December 27th, 2011
“Aduh duhh….”. Keluh seorang ibu sambil mengelus dada.
“Napa, jeng ?”. Tanya tetangga sebelah rumah dengan nada perlahan. “Jantungnya bermasalah ?”.
“E… Bapak Santoso. Nggak pak…”. Jawab ibu tersebut sambil tersenyum malu.
“Saya cuman sedang sedih, jengkel dan marah. Campur aduk dah pak. Saya ini kok bisa melahirkan anak yang nakal ? Anak saya ini loh, pak. Bikin saya gemes melihat dan mendengar perilaku anak saya setiap hari. Mulai dari gak mau disuruh belajar, suka bohong, tidak punya semangat kalau ngadepin kesulitan, tidak disiplin ngikutin aturan. Hampir tiap hari saya mendapatkan laporan dari gurunya dan hampir setiap hari saya harus teriak-teriak di dalam rumah untuk mendisiplinkan anak saya. Saya jadi gak tahan ada di rumah, penginnya kerja melulu. Daripada pulang, kemudian ketemu anak saya… terus harus ngadepin kenakalan anak saya.” Cerocos ibu itu tanpa bisa di rem.
Benarkah anak nakal dilahirkan ? Read More…..
By michaeltang, on April 4th, 2011
Pada suatu sore yang cerah 10 orang anak remaja yang berusia sekitar 15 san tahun bertemu di depan sebuah gereja. Setelah berbincang-bincang,salah seorang diantara mereka berkata,â€Aku rasa hampir semua kita kadang merasa bosan dengan pengawasan ayah dan ibu kita .Ayo kita masuk gereja dan masing-masing mendoakan satu permohonan yang terpenting untuk ayah dan ibu kita.†Semua setuju. Lalu mereka masuk gereja untuk berdoa secara bergantian. Dan ini lah doa-doa mereka Read More…..
By michaeltang, on March 19th, 2011
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?†“Dari Indonesia,†jawab saya. Dia pun tersenyum. Read More…..
By michaeltang, on February 22nd, 2011
Suatu saat selepas sebuah seminar yang baru saja selesai saya bawakan seorang ayah datang dan menceritakan keluh kesahnya. Apalagi kalau bukan tentang anaknya.
Ia memiliki 2 orang anak yang sudah remaja dan satu sama lain saling mengiri. Yang satu mengatakan ,â€Ayah selalu sayang adik! Tidak pernah memenangkan aku!†dan yang satu lagi mengatakan, “Ayah selalu saja memerhatikan kakak! Aku tidak pernah diperhatikan dan harus selalu menurut sama kakak!â€
Sang ayah kebingungan karena selama ini, menurutnya, ia dan istri telah memperlakukan kedua anak mereka dengan adil. Bahkan mereka sering keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga. Read More…..
By michaeltang, on February 22nd, 2011
Ibu Ani, bukan nama sebenarnya, kebingungan menghadapi anaknya yang baru saja kelas 1 SD. Tingkah lakunya menjadi susah dikontrol dan sering dimarahi guru di kelas. Ia dilaporkan sering berjalan-jalan di kelas mengganggu teman-temannya ketika pelajaran berlangsung. Di rumah pun demikian, adiknya tak pernah lolos dari gangguannya. Hal ini terjadi sejak ia mulai masuk kelas 1 SD. Selain itu motivasi belajarnya juga naik turun namun banyak turunnya.
Sampai suatu saat guru kelasnya angkat tangan dan menyarankan orangtuanya untuk pergi ke psikolog dan melakukan tes IQ. Setelah beberapa hari keluarlah hasil tes yang dimaksud yang menyatakan bahwa si Erik, anak Ibu Ani, normal-normal saja. IQ nya 122 skala Weschler. Saran dari tes tersebut adalah Erik perlu pendampingan yang lebih konsisten dan diperhatikan kebutuhan emosionalnya. Read More…..
By michaeltang, on February 22nd, 2011
Devi cemberut setelah dimarahi Papanya. Ia merasa sangat butuh Papanya untuk membantu.Tetapi malah diminta mengerjakan sendiri.
â€Kalau tahu akhirnya toh diminta mengerjakan sendiri ngapain repot-repot menunggu Papa selesai. Huhhh menyebalkan! Papa menyebalkan!â€, gerutunya dalam hati.
Sementara sang papa kembali melanjutkan aktivitasnya. Tetapi pikirannya tidak bisa fokus pada apa yang dikerjakannya. Ia pun tak tahu apa yang membuatnya punya perasaan seperti itu.
Siang berganti sore dan dengan cepat sore berganti malam. Seisi penghuni rumah Devi tertidur lelap. Tetapi Papa Devi tak bisa memejamkan mata secara sempurna.
Tiba-tiba ia mendengar suara halus dari dalam hatinya. Suara itu menegurnya dengan lemah lembut namun penuh ketegasan. â€Engkau marah dengan dirimu sendiri tapi engkau tumpahkan pada anakmu yang tak tahu apa-apa. Sebenarnya kemarahanmu pada Devi tak perlu terjadi. Engkau bingung bagaimana harus menghadapi Devi bukan? Selama ini engkau tak pernah punya waktu untuk memikirkan strategi mendidik dan mengelola anak-anakmu!†Read More…..
By michaeltang, on February 22nd, 2011
Dalam kegiatan sehari-hari mendidik dan mengasuh anak kita seringkali berhadapan dengan berbagai perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Karena itu sering timbul dalam pemikiran untuk “mendisiplinkan†anak tersebut. Namun sayangnya banyak sekali orangtua tidak memahami benar apa makna disiplin yang sebenarnya. Orangtua dan pihak-pihak lain yang sering berurusan dengan anak gagal membedakan disiplin dengan hukuman.
Bahkan sejumlah kamus pun gagal melakukan pembedaan ini. Salah satunya adalah The New Oxford American Dictionary, kata dicipline (disiplin) didefinisikan sebagai “praktik melatih orang untuk mematuhi aturan dengan menggunakan hukuman untuk memperbaiki ketidakpatuhanâ€. Oleh karena itu tak heran dengan definisi semacam ini maka seringkali pendisiplinan dikaitkan dengan alat-alat yang dipakai untuk membuat para pelaku kejahatan jera : penyalahan, membuat malu dan bahkan hukuman fisik. Read More…..
By michaeltang, on February 22nd, 2011
Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.
Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar. Read More…..
|
|